Solusi Utang Puasa Belum Lunas tapi Sudah Ramadan Lagi

Bagaimana hukumnya bagi seseorang yang masih memiliki utang shaum dan sudah sampai di Ramadhan berikutnya belum bisa mengqadha? Wajibkah berfidyah? Jika sudah membayar fidyah untuk utang shaum Ramadhan, apakah masih wajib qadha shaum?

Inilah yang sering ditanyakan, solusi utang puasa belum lunas tapi sudah Ramadan lagi, begini penjelasannya! semoga bermanfaat!

Dalilnya:

من أدرك رمضان فأفطر لمرض ثم صح ولم يقضه حتى أدركه رمضان آخر صام الذي أدركه ثم يقضي ما عليه ثم يطعم عن كل يوم مسكينا رواه الدارقطني

“Siapa saja mengalami Ramadhan, lalu tidak bershaum karena sakit, kemudian sehat kembali dan belum mengqadhanya hingga Ramadhan selanjutnya tiba, maka ia harus menunaikan shaum Ramadhan yang sedang dijalaninya, setelah itu mengqadha utang shaumnya dan memberikan makan kepada seorang miskin satu hari yang ditinggalkan sebagai kaffarah.” (HR Ad-Daruquthni dan Al-Baihaqi).

Penjelasan:

Jika tidak bershaum dan harus mengqadhanya setelah Ramadhan, kewajibannya harus ditunaikan pada tahun tersebut dan tidak boleh masuk Ramadhan selanjutnya, sementara masih punya utang shaum qadha Ramadhan.

Baik ada uzur maupun tidak, masuk Ramadhan berikutnya dengan membawa utang shaum Ramadhan sebelumnya, kompensasi yang harus dilakukannya adalah pilihan-pilihan berikut sebagaimana perbedaan pendapat para ulama.
Pertama, cukup mengqadha (Hasan al-Bashri dan Ibrahim an-Nakha’i). Kedua, mengqadha dan membayar fidyah (Imam Maliki, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad).

Sebagaimana dijelaskan Ibnu Rusyd: “Jika utang qadha terlambat ditunaikan hingga masuk Ramadhan kembali, ada perbedaan pendapat di antara ahli fikih. Sebagian berpendapat ia harus membayarnya dengan qadha setelah Ramadhan tersebut, juga membayar kafarat. Itu pendapat Imam Malik, Imam Syafi’i, dan Imam Ahmad. Namun, sebagian yang lain berpendapat bahwa yang menjadi kewajiban hanya mengqadha tanpa kafarat. Ini adalah pendapat Hasan al-Bashri dan Ibrahim an-Nakha’i.”

“Sumber perbedaan pendapat tersebut adalah apakah kafarat itu bisa dianalogikan antara satu dan lainnya atau tidak? Mereka yang tidak memperbolehkan analogi dalam kafarat tersebut berkesimpulan bahwa yang menjadi kewajiban hanya mengqadha.
Namun, mereka yang memperbolehkan analogi dalam kafarat berkesimpulan: (qadha) juga membayar kafarat dianalogikan dengan mereka yang berbuka pada siang Ramadhan dengan sengaja karena kedua-duanya itu melanggar/menodai kesucian shaum” (Bidayatul Mujtahid, hal 240).

Kafarat yang dimaksud adalah fidyah, yaitu berupa:
1. makanan siap santap dengan porsi makanan yang lengkap atau harga satu kali porsi (makanan lengkap) minimal sebesar Rp 42.000/disesuaikan dg daerah masing-masing (untuk setiap hari yang ditinggalkan).
2. Bahan makanan pokok (sembako) senilai minimal harga satu porsi makanan tersebut (untuk setiap hari yang ditinggalkan).
3. Uang tunai minimal sebesar Rp 35 ribu (untuk setiap hari yang ditinggalkan) diserahkan langsung atau melalui lembaga zakat untuk dibelikan makanan (siap santap/sembako).

 

Disusun Oleh: Ust. H. Gozali, Lc, M.Pd.
– Dosen STIQ As-Syifa Subang
– Ketua DPS As-Syifa Peduli
Dai Nasional MUI (Majelis Ulama Indonesia)

Download eBook Panduan Fiqih Ramadan KLIK DISINI

 

Silahkan tulis komentar Anda disini!

Your email address will not be published. Required fields are marked *