Hukum bekerja di sebuah perusahaan IT infrastruktur PERBANKAN Konvensional

referensimuslim.comSaya ingin tanyakan jika saya bekerja di sebuah perusahaan IT infrastruktur PERBANKAN yaitu menyewakan aplikasi dan tempat menyimpanan data yang terpusat di kantor kami. aplikasi tersebutlah yang menyembatani dan mengendalikan transaksi seluruh ATM & transaksi online lainnya di dalam bank nya ataupun antar bank dengan cabang bank tersebut. Contohnya : aplikasi teller,.customer service dan ATM.
Assalamualaikum para ustadz, ustadzah dan pembaca…
Saya ingin tanyakan jika saya bekerja di sebuah perusahaan IT infrastruktur PERBANKAN yaitu menyewakan aplikasi dan tempat menyimpanan data yang terpusat di kantor kami.
aplikasi tersebutlah yang menyembatani dan mengendalikan transaksi seluruh ATM & transaksi online lainnya di dalam bank nya ataupun antar bank dengan cabang bank tersebut. Contohnya : aplikasi teller,.customer service dan ATM.
Tugas saya disini adalah mengelola dan menjaga suatu jaringan online nya agar jaringan tersebut dapat berjalan.. tidak mengelola data ataupun bidang pengelolaan perbankan lainnya. Jadi hanya jaringan online nya saja. Contohnya : jaringan ATM, jaringan online antar bank ke cabang lain.
Dan perlu diketahui bahwa client kami bukan hanya bank conve tetapi juga bank syariah masuk ke dalam nya.
Sebagian besar perusahaan kami banyak membantu tugas2 perbankan secara online dengan aplikasi dan system yang kami buat.
Artinya tanpa aplikasi dan system jaringan yang kami kelola, bank tidak akan bisa berjalan..
Kantor kami tidak menyatu di dalam gedung bank, tetapi kami memiliki kantor sendiri dengan tempat penyimpanan data perbankan terpusat di kantor kami.
saya ingin tanyakan bagaimana pendapat pengusaha muslim disini dengan tugas yang saya emban.. apakah masuk ke dalam dua orang saksi ataupun pencatatan dalam transaksi ribawi?
Saya sudah mencoba dan melamar berkali2 mencari perusahaan lain namun belum ada yang rasanya lebih baik dari perusahaan tempat saya bekerja. Dari segi tunjangan, bonus dan hak2 karyawan lainnya.
Sebelumnya terima kasih atas bantuan dan jawabannya.
icca.ap***@gmail.com
Jawaban:
Assalaamu’alaikum Wr Wb
Sistem ekonomi dalam Islam ditegakkan pada asas memerangi riba dan menganggapnya sebagai dosa besar yang dapat menghapuskan berkah dari individu dan masyarakat, bahkan dapat mendatangkan bencana di dunia dan di akhirat.
Hal ini telah disinyalir di dalam Al Qur’an dan As Sunnah serta telah disepakati oleh umat. Cukuplah kiranya jika Anda membaca firman Allah Ta’ala berikut ini:
 “Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran, dan selalu berbuat dosa.” (QS. Al Baqarah: 276)
“Hai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba) maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu …” (QS. Al Baqarah: 278-279)
Mengenai hal ini Rasulullah SAW bersabda “Apabila zina dan riba telah merajalela di suatu negeri, berarti mereka telah menyediakan diri mereka untuk disiksa oleh Allah.” (HR Hakim)
Dalam peraturan dan tuntunannya Islam menyuruh umatnya agar memerangi kemaksiatan. Apabila tidak sanggup, minimal ia harus menahan diri agar perkataan maupun perbuatannya tidak terlibat dalam kemaksiatan itu. Karena itu Islam mengharamkan semua bentuk kerja sama atas dosa dan permusuhan, dan menganggap setiap orang yang membantu kemaksiatan bersekutu dalam dosanya bersama pelakunya, baik pertolongan itu dalam bentuk moril ataupun materiil, perbuatan ataupun perkataan. Dalam sebuah hadits hasan, Rasulullah SAW bersabda mengenai kejahatan pembunuhan:
 “Kalau penduduk langit dan penduduk bumi bersekutu dalam membunuh seorang mukmin, niscaya Allah akan membenamkan mereka dalam neraka.” (HR Tirmidzi)
Sedangkan tentang khamar beliau SAW bersabda:
 “Allah melaknat khamar, peminumnya, penuangnya, pemerahnya, yang meminta diperahkan, pembawanya, dan yang dibawakannya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Demikian juga terhadap praktek suap-menyuap:
 “Rasulullah SAW melaknat orang yang menyuap, yang menerima suap, dan yang menjadi perantaranya.” (HR Ibnu Hibban dan Hakim)
Kemudian mengenai riba, Jabir bin Abdillah RA meriwayatkan:
 “Rasulullah melaknat pemakan riba, yang memberi makan dengan hasil riba, dan dua orang yang menjadi saksinya.” Dan beliau bersabda: “Mereka itu sama.” (HR Muslim)
Ibnu Mas’ud meriwayatkan:
 “Rasulullah SAW melaknat orang yang makan riba dan yang memberi makan dari hasil riba, dua orang saksinya, dan penulisnya.” (HR Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Sementara itu, dalam riwayat lain disebutkan:
 “Orang yang makan riba, orang yang memberi makan dengan riba, dan dua orang saksinya – jika mereka mengetahui hal itu – maka mereka itu dilaknat lewat lisan Nabi Muhammad SAW hingga hari kiamat.” (HR Nasa’i)
Hadits-hadits shahih yang sharih itulah yang menyiksa hati orang-orang Islam yang bekerja di bank-bank atau syirkah (persekutuan) yang aktivitasnya tidak lepas dari tulis-menulis dan bunga riba. Namun perlu diperhatikan bahwa masalah riba ini tidak hanya berkaitan dengan pegawai bank atau penulisnya pada berbagai syirkah, tetapi hal ini sudah menyusup ke dalam sistem ekonomi kita dan semua kegiatan yang berhubungan dengan keuangan, sehingga merupakan bencana umum sebagaimana yang diperingatkan Rasulullah saw.:
 “Sungguh akan datang pada manusia suatu masa yang pada waktu itu tidak tersisa seorangpun melainkan akan makan riba; barangsiapa yang tidak memakannya maka ia akan terkena debunya.” (HR Abu Daud dan Ibnu Majah)
Kondisi seperti ini tidak dapat diubah dan diperbaiki hanya dengan melarang seseorang bekerja di bank atau perusahaan yang mempraktekkan riba. Tetapi kerusakan sistem ekonomi yang disebabkan ulah golongan kapitalis ini hanya dapat diubah oleh sikap seluruh bangsa dan masyarakat Islam. Perubahan itu tentu saja harus diusahakan secara bertahap dan perlahan-lahan sehingga tidak menimbulkan guncangan perekonomian yang dapat menimbulkan bencana pada negara dan bangsa. Islam sendiri tidak melarang umatnya untuk melakukan perubahan secara bertahap dalam memecahkan setiap permasalahan yang pelik. Cara ini pernah ditempuh Islam ketika mulai mengharamkan riba, khamar, dan lainnya. Dalam hal ini yang terpenting adalah tekad dan kemauan bersama, apabila tekad itu telah bulat maka jalan pun akan terbuka lebar.
Setiap muslim yang mempunyai kepedulian akan hal ini hendaklah bekerja dengan hatinya, lisannya, dan segenap kemampuannya melalui berbagai wasilah (sarana) yang tepat untuk mengembangkan sistem perekonomian kita sendiri, sehingga sesuai dengan ajaran Islam. Sebagai contoh perbandingan, di dunia ini terdapat beberapa negara yang tidak memberlakukan sistem riba, yaitu mereka yang berpaham sosialis.
Di sisi lain, apabila kita melarang semua muslim bekerja di bank, maka dunia perbankan dan sejenisnya akan dikuasai oleh orang-orang non muslim seperti Yahudi dan sebagainya. Pada akhirnya, negara-negara Islam akan dikuasai mereka.
Terlepas dari semua itu, perlu juga diingat bahwa tidak semua pekerjaan yang berhubungan dengan dunia perbankan tergolong riba. Ada di antaranya yang halal dan baik, seperti kegiatan perpialangan, penitipan, dan sebagainya; bahkan sedikit pekerjaan di sana yang termasuk haram. Oleh karena itu, tidak mengapalah seorang muslim menerima pekerjaan tersebut – meskipun hatinya tidak rela – dengan harapan tata perekonomian akan mengalami perubahan menuju kondisi yang diridhai agama dan hatinya. Hanya saja, dalam hal ini hendaklah ia rnelaksanakan tugasnya dengan baik, hendaklah menunaikan kewajiban terhadap dirinya dan Rabb-nya beserta umatnya sambil menantikan pahala atas kebaikan niatnya:
 “Sesungguhnya setiap orang memperoleh apa yang ia niatkan.” (HR Bukhari)
Sebelum saya tutup fatwa ini janganlah kita melupakan kebutuhan hidup yang oleh para fuqaha diistilahkan telah mencapai tingkatan darurat. Kondisi inilah yang mengharuskan saudara penanya untuk menerima pekerjaan tersebut sebagai sarana mencari penghidupan dan rezeki, sebagaimana firman Allah SWT:
 “… Tetapi barangsiapa dalam keadaan terpaksa (memakannya) sedang ia tidak menginginkannya dan tidak (pula) melampaui batas maka tidak ada dosa baginya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al Baqarah: 173)
Sumber: Halal dan Haram, Dr. Yusuf Al-Qaradhawy

 

Berbagi dengan Admin Follow @referensimuslim atau @GozaliSudirjo

Silahkan tulis komentar Anda disini!

Your email address will not be published. Required fields are marked *